Bulan Ramadhan telah tiba. Saat ini kita berada di sepertiga pertama. Menurut hadits Nabi, fase pertama adalah rahmat. Artinya, Allah SWT menumpahkan seluruh kasih sayang kepada hamba-Nya yang berpuasa. Sebab perjuangan melawan hawa nafsu di fase-fase awal puasa sangatlah berat. Bagaimana tidak. Kenikmatan-kenikmatan yang tadinya boleh dilakukan, di bulan ini dilarang. Makan makanan enak. Minum minuman menyegarkan. Syahwat biologis. Di bulan ini tak boleh dilakukan.
Berat memang, tapi harus dilakukan. Bagi yang imannya tipis. Butuh perjuangan. Bagi puasa pemula, terkadang masih suka icip-icip makanan sambil bilang pura-pura lupa. Maka disinilah Allah seketika membalasnya dengan kasih sayang.
Bentuk kasih sayang itu berbagai macam. Contoh kecilnya adalah suasana kebersamaan dalam keluarga. Dua hari pertama puasa tahun ini bertepatan dengan hari libur panjang. Ditambah lagi cuacannya hujan. Akhirnya keluarga bisa berkumpul bersama dalam sebuah kehangatan.
Seorang bapak yang biasanya pagi-pagi berangkat kerja, hari itu di rumah. Begitu juga Ibu. Pagi hari yang biasanya super sibuk menyiapkan segala kebutuhan harian ; mulai memasak, menyiapkan anak-anak sekolah, dan juga pergi beraktifiitas rutinnya, hari itu merdeka.
Begitu juga anak-anak yang masih sekolah, hari itu libur. Suasana seperti itu bukan suatu kebetulan. Namun sudah pasti diskenario oleh Allah. Kita tinggal menikmatinya sambil bertafakkur ; inilah kenikmatan orang yang berpuasa.
Di sisi lain, di saat orang-orang yang ingin memperbanyak pahala di bulan Ramadhan, ia tidak mau melewatkan momentum. Bulan Ramadhan di mana pahala sunnah disamakan seperti pahala wajib, mereka tak mau menyia-nyiakan kesempatan meraih sebanyak-banyak pahala. Seperti salat tarawih, tahajud, dhuha, membaca Al-Quran, berdzikir kepada Allah, dan tentunya bersedekah, semuanya dilakukan.
Mereka seakan khawatir jika Ramadhan tahun ini ternyata Ramadhan terakhir dalam hidupnya. Maka saleh ritual mereka perkuat, saleh sosial semakin diasah. Sebagaimana Gus Mus pernah membahas dua istilah itu secara mendalam di era 90-an.
Jika saleh ritual berhubungan dengan kedekatan pada Allah, maka saleh sosial berhubungan dengan sesama manusia. Berkelindan dengan dilipatkannya pahala, sifat empati dan rasa peduli mereka tumpahkan. Seakan mereka ingin mengatakan, harta ini hanya titipan. Kenapa harus saya tahan-tahan. Segera keluarkan, bagikan, mumpung Ramadhan. Pahala dilipatgandakan. Motivasi itulah yang harus dijadikan landasan.
Perang melawan penyakit hati, berupa pelit, sifat egois dan ingin menumpuk-numpuk harta mereka lawan. Sembari membayangkan, betapa gembiranya orang yang kita beri bagian dari rizki yang kita dapatkan. Terlebih kepada mereka yang membutuhkan.
Menjelang berbuka, di saat mereka tidak setiap hari merasakan berbagai macam menu makanan, melalui kepedulian dan empati kita, maka mereka bisa merasakan makanan sebagaimana yang dimakan mereka yang berkecukupan. Suasana inilah wujud rahmat dan kasih sayang yang Allah berikan di Bulan Ramadhan.
Situasi yang tidak jauh berbeda juga mewarnai keluarga besar alumni Qudsiyyah. Di antara mereka ada yang berkecukupan, ada pula yang tidak berkecukupan. Bagaimana agar keberadaan IKA Qudsiyyah ini bisa menjadi jembatan. Mereka yang berkecukupan, bisa mengangkat derajat alumni lain yang tidak berkecukupan.
Mengambil pelajaran di Bulan Ramadhan, IKA Qudsiyyah ingin berangkulan menjadi jembatan antar keduanya agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin mendalam. Semoga program-program IKA Qudsiyyah ke depan dapat memperioritaskan yang demikian. Supaya makna dalil “Manusia yang paling baik adalah manusia yang bisa memberi kemanfaatan bagi orang lain” dapat benar-benar diwujudkan. Semoga.