Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.
Why do we use it?
It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like).
Where does it come from?
Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32.
The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.
Where can I get some?
There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.
Kiai Haji Raden Asnawi atau yang disingkat dengan KHR. Asnawi adalah kiai asal kampung Bendan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia terkenal produktif menulis. Tulisan-tulisannya tersebar luas di masyarakat, mulai saat beliau masih hidup hingga wafatnya, karyanya masih terus hidup, karena dikaji banyak orang. Dalam artikel ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan karya tulis KHR. Asnawi, baik yang berupa kitab maupun yang berupa syairan.
Karya Berbentuk Kitab
Ada dua poin dalam pembahasan ini. Pertama, kitab-kitab yang sudah jelas kebenaran penisbatannya kepada KHR. Asnawi. Kedua, kitab-kitab yang disangka banyak orang sebagai kitab KHR. Asnawi padahal sebetulnya bukan karya beliau. Kitab-kitab yang sudah dipastikan sebagai karya KHR. Asnawi adalah:
• Kitab Syari’atul Islamli Ta’limi an-Nisa’ wa al-Ghulam.
Kitab ini berisi fikih dasar dalam madzhab Syafi’i. Ditulis berbahasa Jawa dengan metode tanya jawab. Pembahasannya meliputi rukun Islam, rukun Iman, thaharah, salat, dan puasa. Kitab ini terdiri 112 halaman. Diterbitkan di Mesir pada 19 November 1934 M / Sya’ban 1353 H oleh Mathba’ah Musthofa al-Babi al-Halabi atas sponsor dari Syaikh Abdullah bin Afif, pemilik percetakan al-Maktabah al-Mishriyyah yang berlokasi di Cirebon.
Kitab ini sudah dipastikan sebagai karangan KHR. Asnawi karena pada cover kitab tertulis:
شريعة الإسلام لتعليم النساء والغلام
تأليف قدوة الواصلين ومربي المريدين شيخنا الأسنوي القدسي الجاوي نفع الله بمؤلفاته المسلمين آمين
Cover depan dan halaman pertama kitab Syari’atul Islam yang diterbitkan di Mesir tahun 1934 M/1353 H
• Kitab Jawab Su’alipun Mu’taqod Seket
Kitab berbahasa Jawa ini berisi tanya jawab seputar aqa’id 50 (akidah Islam yang terdiri 50 dasar) yang diikuti dengan dalil ijmali aqli. Aqaid 50 adalah 50 akidah yang wajib diketahui setiap mukallaf. Mencakup 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah, 1 sifat jaiz Allah, 4 sifat wajib para nabi, 4 sifat mustahil para nabi, dan 1 sifat jaiz para nabi. Kitab ini sampai sekarang masih dicetak dan diedarkan oleh Mathba’ah Sa’ad Nabhan Surabaya. Hanya saja beberapa pekan lalu penulis mendapatkan naskah cetakan lawas kitab ini. Ditemukan di rumah peninggalan alm. H. Ahmad Hanif yang terletak utara Menara Kudus.
Cetakan lawas ini adalah cetakan al-Mathba’ah al-Aminiyyah Singapura, tertanggal 10 Shofar 1348 H / 17 Juni 1929 M. Al-Mathba’ah al-Aminiyyah sendiri adalah percetakan milik Haji Muhammad Amin bin Haji Abdullah, seorang saudagar asal Pati Jawa tengah yang kemudian sukses dalam bidang percetakan kitab di Singapura. Tercatat pada data yang penulis miliki, Haji Muhammad Amin ini telah hampir 200 judul kitab yang banyak di antaranya adalah karya ulama nusantara.
Pada akhir kitab cetakan lawas ini juga disertakan sebuah ‘tatimmah’ atau penyempurna bahasan karya sebagian santri KHR. Asnawi yang tidak disebutkan secara jelas siapa namanya.
Cover depan Kitab Jawab Soalipun Mu’taqod Seket terbitan al-Mathba’ah al-Aminiyyah Singapura 1929 M/1348 H.
• Risalah berbahasa Arab, membantah fatwa Mufti Syafi’iyyah di Makkah.
KHR. Asnawi menulis risalah dalam bahasa Arab berisi bantahan atas fatwa keharaman membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang dilayangkan oleh Sayyid Abdullah Zawawi, mufti syafiiyyah di Makkah pada saat itu. Bermula dari istifta’ atau permintaan fatwa dari sebagian kiai/santri di Kudus yang dikirim kepada Sang Mufti di Makkah, bagaimana hukum membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani? yang di dalamnya terdapat kalimat:
أنا واحد في الأرض وأنت واحد في السماء
إذا سألتم الله فاسألوني
إن السعداء والأشقياء يعرضون علي ويوقفون لدي
قدمي على رقبة كل ولي
Maka, Sang Mufti menjawab, tidak boleh, dengan berbagai alasan yang tercantumkan dalam fatwanya. Setelah kabar fatwa tersebut sampai ke telinga kiai-kiai Kudus, maka Kiai Muhammad bin Utsman Kudus melaporkannya kepada KHR. Asnawi. Maksud dari laporan tersebut adalah mengharap agar KHR. Asnawi berkenan menulis bantahan atas fatwa itu. Awalnya KHR. Asnawi ragu dalam mengijabahi permintaan itu, tapi pada akhirnya beliau pun mengiyakan dan menulis risalah ini.
Selain pembahasan hukum manaqib, risalah ini juga menyinggung hukum Istighatsah dan menelaah kitab-kitab Ibnu Tamiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridla.
Orang yang membaca risalah ini akan begitu takjub dengan kealiman KHR. Asnawi. Bahasa yang digunakan sangat fashih, hingga para pembaca akan mengira bahwa yang menulisnya adalah orang Arab. Bantahan-bantahannya pun begitu kuat dan sangat mematahkan hujjah lawan. Diselingi dengan dalil aqli manthiqi dan dalil naqli.
Manuskrip risalah ini ditemukan di Masjid KH. Sholeh Lateng Banyuwangi oleh Komunitas Pegon yang diprakasai Mas Ayung Notonegoro. Manuskrip ini terdiri dari 6 halaman dengan tulisan tangan yang bukan salinan langsung KHR. Asnawi sendiri. Dalam manuskrip ini tidak ada keterangan siapa penyalinnya. Hingga sekarang masih berupa manuskrip yang belum pernah dicetak.
Bukti kuat risalah ini adalah karya KHR. Asnawi Kudus adalah keterangan pada akhir
كتبه بفمه وقلمه
الراجي غفران المساوي
محمد أسنوي القدسي الجاوي
Halaman pertama dari risalah KHR. Asnawi Kudus yang membantah fatwa Mufti Syafi’iyyah Makkah
Adapun kitab-kitab yang disangka banyak orang sebagai karya KHR. Asnawi tapi sebetulnya bukan karya beliau adalah:
• Kitab Fasholatan KHR. Asnawi Kudus
Kitab ini bukan karya KHR. Asnawi, melainkan karya cucu beliau yang bernama KH. Ahmad Minan Zuhri, yang bersumberkan dari amaliyah KHR. Asnawi. Setidaknya ada dua bukti bahwa kitab ini adalah karya KH. Ahmad Minan Zuhri. Pertama, pada cover kitab yang diterbitkan Percetakan Menara Kudus tertulis:
رتبه منن زهري أسنوي
Kedua, dalam kata pengantar terjemahan kitab fasholatan berbahasa Indonesia, tertanggal Kudus 3 Rajab 1375 / 14 Februari 1956, KH. Minan Zuhri berkata: “Kitab pesalatan K. H. Asnawi yang telah kami susun dengan Bahasa Daerah (Jawa) huruf Arab, sekarang kami salin ke dalam Bahasa Indonesia, dengan maksud untuk sekedar memberikan sumbangan kepada mereka yang mengalami kesulitan mempelajari kitab yang ditulis dengan Bahasa Daerah huruf Arab.
Perlu kami jelaskan bahwa adzkarushsholah dan aurod (wirid-wirid) yang kami tulis dalam kitab ini adalah yang dilakukan dan yang diwiridkan oleh beliau K.H. Asnawi.”
Dari keterangan KH. Minan Zuhri di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kitab fasholatan adalah susunan beliau yang diambilkan dari aurod dan a’mal KHR. Asnawi, bukan karangan KHR. Asnawi sendiri.
Cover depan kitab Fasholatan KHR. Asnawi susunan KH. Minan Zuhri
• Kitab Tauhid Jawan Pada cover kitab ini cetakan Maktabah Karya Toha Putra Semarang:
كتاب توحيد جاوان
كاسوسون دينيغ
سبط العالم العلامة صاحب الفضيلة كياهي حاج أسنوي قدس
Banyak orang fokus pada nama KHR. Asnawi. Jika pembaca membacanya dengan cermat, akan tahu bahwa yang menulis kitab ini bukanlah KHR. Asnawi, melainnya cucu beliau yang Bahasa arab cucu adalah “sibth”. Yaitu KH. Ahmad Minan Zuhri, sebagaimana tercantum pada muqaddimah kitab.
Cover kitab Tauhid Jawan karya KH. Minan Zuhri terbitan Karya Toha Putra Semarang
• Kitab Jawan Ashal Sangking Lafadh Arab Masail Abil Laits As-Samarqandi
Sebagaimana kitab sebelumnya, kitab ini pula banyak disalah fahami penisbatannya kepada KHR. Asnawi Kudus. Pada cover kitab tercatat:
فونيكا كتاب جاوان أصل سغكيغ لفظ عرب مسائل أبي الليث السمرقندي
أوكي موندوت ماليه سغكيغ شرح غيفون فونيكا قطرالغيث
لبعض تلامذة الشيخ أسنوي بقدس
Banyak pembaca yang hanya fokus pada kalimat “Syaikh Asnawi Kudus” tanpa memperhatikan kalimat sebelumnya, yaitu Ba’dhi Talamidzati. Arti lengkapnya adalah: karya sebagian murid KH. Asnawi.
Lalu, siapakah murid KHR. Asnawi tersebut? Hingga sekarang tokoh tersebut masih samar.
penulis belum mendapatkan informasi lebih dalam lagi.
Beberapa pekan lalu penulis mendapatkan cetakan lawas kitab ini di rumah kuno peninggalan Alm. H. Ahmad Hanif, utara Masjid Menara Kudus. Naskah lawas ini terdiri dari 10 halaman dan diterbitkan pada Al-Mathba’ah Al-Aminiyyah milik Haji Muhammad Amin bin Haji Abdullah Singapura, pada tahun 1929 M/1348 M.
Cover depan kitab Puniko Kitab Jawan Ashal Sangking Lafadh Arab Masail Abil Laits As-Samarqandi karangan sebagian santri KHR. Asnawi Kudus. Dicetak oleh al Mathba’ah al-Aminiyyah Singapura tahun 1929 M/1348 H
Karya KHR. Asnawi Kudus Berupa Syairan
Selain pandai menulis kitab natsar, KHR. Asnawi juga piawai menggubah syair-syairan. Banyak syair yang telah digubah, baik dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Jawa. Di antaranya adalah:
Qashidah yang terkenal dengan julukan Shalawat Asnawiyyah. Pada salah satu bait qashidah ini menggambarkan betapa cintanya KHR. Asnawi Kudus kepada Indonesia. Yaitu bait:
أمان أمان أمان أمان * باندونيسيا رايا أمان
Qashidah dalam 22 bait berqafiyah lamiyyah dengan bahar Basith yang dikirimkan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Mathla’ qashidahnya adalah:
مسك السلام عليكم مع تحيتنا * يا أهل نهضتنا وعزة جللا
Setelah akhir bait KHR. Asnawi berkata:
من مرتجي الرضا والقبول من الخالق والمخلوق مع حصول المأمول : محمد أسنوي القدسي الجاوي
Isi qashidah ini adalah sebuah nasehat KHR. Asnawi kepada KH. Hasyim Asy’ari yang kebetulan berbeda pendapat dalam suatu masalah hukum. Hanya saja dalam qashidah ini tidak ada kejelasan, apa permasalahan tersebut.
Manuskrip qashidah ini ditemukan pada selipan kitab-kitab peninggalan KH. Hasyim Asy’ari yang tersimpan pada perpustakaan Pesantren Tebuireng Jombang.
Qashidah yang dikirimkan KHR. Asnawi Kudus kepada KH. Hasyim Asy’ari Manuskrip ini dengan tulisan tangan langsung KHR. Asnawi
• Qashidah 17 bait berqafiyah lamiyyah dengan bahar basith yang juga dikirimkan kepada KH. Hasyim Asy’ari Jombang. Mathla’ qashidahnya adalah:
أزكى السلام عليكمو مع التحيا * ت الوافرات المعطرات والحلل
Sama seperti qashidah sebelumnya, qashidah ini juga berisi nasehat KHR. Asnawi kepada KH. Hasyim Asy’ari yang kebetulan berbeda pendapat dalam penentuan hari raya Idul Fitri. Pada saat itu, hasil ijtihad KHR. Asnawi adalah hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu. Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa hari Jum’at sudah masuk 1 Syawal alias hari raya Idul Fitri.
Manuskrip qashidah ini ditulis satu naskah dengan manuskrip qashidah sebelumnya. Ditemukan di antara lempitan kitab peninggalan KH. Hasyim Asy’ari yang disimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng.
Qashidah yang dikirimkan KHR. Asnawi Kudus kepada KH. Hasyim Asy’ari Manuskrip ini dengan tulisan tangan langsung KHR. Asnawi
• Syairan berbahasa Jawa berjumlah 10 bait yang ditulis sebagai khuthbatul kitab atau kata testimoni pada kitab Fasholatan KHR. Asnawi Kudus susunan KH. Minan Zuhri Asnawi.
Syairan berbahasa Jawa berjumlah 5 bait yang ditulis sebagai kata testimoni untuk Kitab Fasholatan Kendal karya KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal.
Demikian ulasan singkat yang penulis suguhkan kepada khalayak pembaca. Semoga dapat menambah pencerahan, informasi dan dokumentasi yang mendukung keberadaan KHR Asnawi sebagai seorang penulis yang produktif dengan berbagai karyawanya.
Tadi malam Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus angkatan tahun 2014 mengadakan reuni dan halal bihalal. Kebetulan saya yang diminta teman-teman untuk pegang mic. Pada sesi tanya jawab ada teman yang bertanya, bagaimanakah sikap saya soal polemik nasab Ba’alawi. Apakah nyambung kepada Rasulullah atau tidak?
Sebelum saya tuliskan jawaban saya, saya ingin terlebih dahulu jelaskan sedikit profil Madrasah Qudsiyyah.
Madrasah Qudsiyyah adalah salah satu madrasah paling sepuh di Kudus yang masih eksis hingga sekarang. Didirikan pada tahun 1919 M oleh KHR. Asnawi Kudus, ulama kenamaan asal Bendan Kudus yang juga pendiri Nahdlatul Ulama.
Madrasah dengan ribuan santri ini sangat berjasa dalam mencetak para ulama di Kudus dan sekitarnya. Jika kita keliling di desa-desa daerah Kudus dan sekitarnya, insya Allah ada kiai di desa itu yang alumni Qudsiyyah.
Guru-guru pengajarnya dari dulu hingga sekarang banyak dari kalangan kiai-kiai sepuh Kudus. Seperti Alm KH. Sya’rani Ahmadi, Alm KH. M. Ma’ruf Irsyad, Alm KH. Yahya Arif, KH. Noor Halim Ma’ruf, dan KH. Saifuddin Luthfi.
Kembali ke jawaban seputar syubhat yang meragukan nasab Ba’alawi. Saya jawab seperti berikut:
Bahwa nasab Ba’alawi sudah pernah diijma’ para nassabah (ahli nasab) kevalidannya. Hukum khorqul ijma’ (menyalahi ijma’) tidak boleh dan tidak dibenarkan. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa nasab Ba’alawi adalah di antara nasab paling shohih yang nyambung kepada Nabi.
Jika ingin tatabbu’, yang mengingkari nasab Sadah Ba’alawi jumlahnya sangat sangat sedikit dibanding ulama yang memvalidkan. Orang yang faham sejarah dan bersikap inshaf, pasti tahu soal ini. Apalah arti segelintir orang di depan raksasa nassabah? Khilafnya tak dianggap. Dulu pernah ada pengingkaran di Timur Tengah, tapi tak lama syubhatnya padam karena hujjahnya sangat lemah.
Berbicara soal hubungan ulama Nusantara dengan Sadah Ba’alawi, saya ada kumpulan tulisan soal ini. Rencana mau saya bukukan. Antara lain ada KH. Sholeh Darat Semarang, guru dari KH. Hasyim Asy’ari dan Syaikh Mahfudz Tremas, yang mencatat dalam salah satu kitabnya, beliau pernah belajar kepada Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya sewaktu Habib Syaikh tinggal di Semarang.
Habib Syaikh Bafaqih Botoputih memiliki anak bernama Muhammad. Habib Muhammad memiliki anak bernama Alawi. Habib Alawi Bafaqih ini dimakamkan di komplek pemakaman Menara Kudus.
Kita di Madrasah Qudsiyyah punya guru sepuh bernama Alm KH. Yasin Jalil. Beliau sangat takdhim kepada Sadah Habaib, khususnya Habib Alwi bin Muhammad bin Syaikh Bafaqih.
Saya pernah dapat cerita Kiai Aslim Akmal Krandon Kudus, dahulu KH. Yasin Jalil pernah sakit parah. Diberobatkan ke mana-mana tak kunjung sembuh. Terakhir diobati Habib Alwi bin Muhammad bin Syaikh Bafaqih Kauman yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Alhamdulillah sembuh. Sebagai rasa terima kasih, KH. Yasin Jalil ingin ‘ngrumati’ atau membiayai salah salah satu dari anak/cucu Habib Alwi Bafaqih. Akhirnya salah satu cucu beliau dibiayai pendidikannya hingga dewasa oleh KH. Yasin Jalil.
Soal bagaimana masyayikh Qudsiyyah takdhim kepada Habaib, tak perlu diragukan lagi. Dari dulu hingga sekarang jika ada Yek (sebutan untuk habib kecil/muda) yang ngaji di Qudsiyyah, Madrasah akan menggratiskan biaya syahriyahnya. Jika ada Yek yang kompeten untuk memimpin PPQ (Persatuan Pelajar Qudsiyyah, nama organisasi kesiswaan di madrasah kami), maka para masyayikh akan memintanya untuk berkenan dicalonkan. Jika yek tadi berkenan maju sebagai calon ketua PPQ, sudah hampir dipastikan dia yang akan menang. Kurang keren bagaimana takdhim masyayikh dan santri Qudsiyyah kepada Habaib?
Kita sebagai alumni Qudisyyah yang didirikan oleh KHR. Asnawi, harus ikut manhaj beliau dalam berfikir dan beramal. KHR. Asnawi sangat akrab dan menaruh hormat kepada mereka.
Sebuah data dari Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO), nomor 2 tahun 1347 H, halaman 16 merekam sejarah pendirian Nahdlatul Ulama cabang Kudus yang ternyata juga dihadiri para habib/sayyid.
Singkat cerita, pada Malam Senin 10 Rabi’ul Awwal 1347 H yang pertepatan dengan 26 Agustus 1928 M, KHR. Asnawi Kudus membuat forum pendirian NU cabang Kudus. Forum ini diselenggarakan di Ndalem KHR. Asnawi Kudus dan dihadiri oleh KH. Abdul Wahhab Hasbullah dan Kiai Abdullah Ubaid dari Pengurus NU Pusat. Turut hadir pula para kiai, pengulu, hujjaj, dan sayyid di daerah Kudus.
Forum tersebut mensepakati berdirinya NU cabang Kudus dengan rincian pengurus antara lain sebagai berikut:
Kiai Ahmad Kamal Hambali Damaran sebagai Rais Syuriyah.
Kiai Mufid Sunggingan sebagai Wakil Rais Syuriyah.
Kiai Fauzan Damaran sebagai Katib.
Kiai Dahlan Kauman, Kiai Nur Baletengahan, Kiai Abdul Hamid Kauman, dan Kiai Abdullah Sajad Kenepan sebagai A’wan.
Sedangkan mustasyar atau penasehat, -yang lumrahnya diisi oleh orang-orang yang disepuhkan, baik dari segi usia, keilmuan, maupun kedudukan-, diamanahkan kepada empat ulama. Yaitu KHR. Asnawi Bendan, Kiai Muslim Langgardalem, Kiai Shofwan Durri Tepasan, dan yang terakhir adalah Sayyid Alwi Bafaqih Kauman (dalam dokumen tertulis Sayyid Ali), sepupu KHR. Asnawi dan salah satu kawan beliau semasa ngaji di Makkah dan setelah kembali ke Kudus.
Silahkan fokus pada keterangan forum pendirian NU cabang Kudus dihadiri para Sayyid dan salah satu dari mereka, yaitu Sayyid Alwi Bafaqih, terpilih menjadi mustasyar yang dianggap sepuh. Forum itu diselenggarakan di Ndalem KHR. Asnawi. Andai beliau tak takdhim kepada para Sadah Ba’alawi, pasti tak akan ada kejadian seperti itu.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai alumni Qudsiyyah yang didirikan oleh KHR. Asnawi mengikuti jejak beliau dalam mentakdhimi para sadah habaib. Jika tidak bisa mentakdhimi, minimal tidak menjelek-jelekkan mereka.
Bulan Ramadhan telah tiba. Saat ini kita berada di sepertiga pertama. Menurut hadits Nabi, fase pertama adalah rahmat. Artinya, Allah SWT menumpahkan seluruh kasih sayang kepada hamba-Nya yang berpuasa. Sebab perjuangan melawan hawa nafsu di fase-fase awal puasa sangatlah berat. Bagaimana tidak. Kenikmatan-kenikmatan yang tadinya boleh dilakukan, di bulan ini dilarang. Makan makanan enak. Minum minuman menyegarkan. Syahwat biologis. Di bulan ini tak boleh dilakukan. Berat memang, tapi harus dilakukan. Bagi yang imannya tipis. Butuh perjuangan. Bagi puasa pemula, terkadang masih suka icip-icip makanan sambil bilang pura-pura lupa. Maka disinilah Allah seketika membalasnya dengan kasih sayang. Bentuk kasih sayang itu berbagai macam. Contoh kecilnya adalah suasana kebersamaan dalam keluarga. Dua hari pertama puasa tahun ini bertepatan dengan hari libur panjang. Ditambah lagi cuacannya hujan. Akhirnya keluarga bisa berkumpul bersama dalam sebuah kehangatan. Seorang bapak yang biasanya pagi-pagi berangkat kerja, hari itu di rumah. Begitu juga Ibu. Pagi hari yang biasanya super sibuk menyiapkan segala kebutuhan harian ; mulai memasak, menyiapkan anak-anak sekolah, dan juga pergi beraktifiitas rutinnya, hari itu merdeka. Begitu juga anak-anak yang masih sekolah, hari itu libur. Suasana seperti itu bukan suatu kebetulan. Namun sudah pasti diskenario oleh Allah. Kita tinggal menikmatinya sambil bertafakkur ; inilah kenikmatan orang yang berpuasa. Di sisi lain, di saat orang-orang yang ingin memperbanyak pahala di bulan Ramadhan, ia tidak mau melewatkan momentum. Bulan Ramadhan di mana pahala sunnah disamakan seperti pahala wajib, mereka tak mau menyia-nyiakan kesempatan meraih sebanyak-banyak pahala. Seperti salat tarawih, tahajud, dhuha, membaca Al-Quran, berdzikir kepada Allah, dan tentunya bersedekah, semuanya dilakukan. Mereka seakan khawatir jika Ramadhan tahun ini ternyata Ramadhan terakhir dalam hidupnya. Maka saleh ritual mereka perkuat, saleh sosial semakin diasah. Sebagaimana Gus Mus pernah membahas dua istilah itu secara mendalam di era 90-an. Jika saleh ritual berhubungan dengan kedekatan pada Allah, maka saleh sosial berhubungan dengan sesama manusia. Berkelindan dengan dilipatkannya pahala, sifat empati dan rasa peduli mereka tumpahkan. Seakan mereka ingin mengatakan, harta ini hanya titipan. Kenapa harus saya tahan-tahan. Segera keluarkan, bagikan, mumpung Ramadhan. Pahala dilipatgandakan. Motivasi itulah yang harus dijadikan landasan. Perang melawan penyakit hati, berupa pelit, sifat egois dan ingin menumpuk-numpuk harta mereka lawan. Sembari membayangkan, betapa gembiranya orang yang kita beri bagian dari rizki yang kita dapatkan. Terlebih kepada mereka yang membutuhkan. Menjelang berbuka, di saat mereka tidak setiap hari merasakan berbagai macam menu makanan, melalui kepedulian dan empati kita, maka mereka bisa merasakan makanan sebagaimana yang dimakan mereka yang berkecukupan. Suasana inilah wujud rahmat dan kasih sayang yang Allah berikan di Bulan Ramadhan. Situasi yang tidak jauh berbeda juga mewarnai keluarga besar alumni Qudsiyyah. Di antara mereka ada yang berkecukupan, ada pula yang tidak berkecukupan. Bagaimana agar keberadaan IKA Qudsiyyah ini bisa menjadi jembatan. Mereka yang berkecukupan, bisa mengangkat derajat alumni lain yang tidak berkecukupan. Mengambil pelajaran di Bulan Ramadhan, IKA Qudsiyyah ingin berangkulan menjadi jembatan antar keduanya agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin mendalam. Semoga program-program IKA Qudsiyyah ke depan dapat memperioritaskan yang demikian. Supaya makna dalil “Manusia yang paling baik adalah manusia yang bisa memberi kemanfaatan bagi orang lain” dapat benar-benar diwujudkan. Semoga.