KHR. Asnawi Kiai Produktif Asal Kudus


Kiai Haji Raden Asnawi atau yang disingkat dengan KHR. Asnawi adalah kiai asal kampung Bendan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia terkenal produktif menulis. Tulisan-tulisannya tersebar luas di masyarakat, mulai saat beliau masih hidup hingga wafatnya, karyanya masih terus hidup, karena dikaji banyak orang. Dalam artikel ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan karya tulis KHR. Asnawi, baik yang berupa kitab maupun yang berupa syairan.

Karya Berbentuk Kitab

Ada dua poin dalam pembahasan ini. Pertama, kitab-kitab yang sudah jelas kebenaran penisbatannya kepada KHR. Asnawi. Kedua, kitab-kitab yang disangka banyak orang sebagai kitab KHR. Asnawi padahal sebetulnya bukan karya beliau. Kitab-kitab yang sudah dipastikan sebagai karya KHR. Asnawi adalah:


• Kitab Syari’atul Islamli Ta’limi an-Nisa’ wa al-Ghulam.

Kitab ini berisi fikih dasar dalam madzhab Syafi’i. Ditulis berbahasa Jawa dengan metode tanya jawab. Pembahasannya meliputi rukun Islam, rukun Iman, thaharah, salat, dan puasa. Kitab ini terdiri 112 halaman. Diterbitkan di Mesir pada 19 November 1934 M / Sya’ban 1353 H oleh Mathba’ah Musthofa al-Babi al-Halabi atas sponsor dari Syaikh Abdullah bin Afif, pemilik percetakan al-Maktabah al-Mishriyyah yang berlokasi di Cirebon.

Kitab ini sudah dipastikan sebagai karangan KHR. Asnawi karena pada cover kitab tertulis:

شريعة الإسلام لتعليم النساء والغلام

تأليف قدوة الواصلين ومربي المريدين شيخنا الأسنوي القدسي الجاوي نفع الله بمؤلفاته المسلمين آمين

Cover depan dan halaman pertama kitab Syari’atul Islam yang diterbitkan di Mesir tahun 1934 M/1353 H


• Kitab Jawab Su’alipun Mu’taqod Seket

Kitab berbahasa Jawa ini berisi tanya jawab seputar aqa’id 50 (akidah Islam yang terdiri 50 dasar) yang diikuti dengan dalil ijmali aqli. Aqaid 50 adalah 50 akidah yang wajib diketahui setiap mukallaf. Mencakup 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah, 1 sifat jaiz Allah, 4 sifat wajib para nabi, 4 sifat mustahil para nabi, dan 1 sifat jaiz para nabi. Kitab ini sampai sekarang masih dicetak dan diedarkan oleh Mathba’ah Sa’ad Nabhan Surabaya. Hanya saja beberapa pekan lalu penulis mendapatkan naskah cetakan lawas kitab ini. Ditemukan di rumah peninggalan alm. H. Ahmad Hanif yang terletak utara Menara Kudus.

Cetakan lawas ini adalah cetakan al-Mathba’ah al-Aminiyyah Singapura, tertanggal 10 Shofar 1348 H / 17 Juni 1929 M. Al-Mathba’ah al-Aminiyyah sendiri adalah percetakan milik Haji Muhammad Amin bin Haji Abdullah, seorang saudagar asal Pati Jawa tengah yang kemudian sukses dalam bidang percetakan kitab di Singapura. Tercatat pada data yang penulis miliki, Haji Muhammad Amin ini telah hampir 200 judul kitab yang banyak di antaranya adalah karya ulama nusantara.

Pada akhir kitab cetakan lawas ini juga disertakan sebuah ‘tatimmah’ atau penyempurna bahasan karya sebagian santri KHR. Asnawi yang tidak disebutkan secara jelas siapa namanya.

Cover depan Kitab Jawab Soalipun Mu’taqod Seket terbitan al-Mathba’ah al-Aminiyyah Singapura 1929 M/1348 H.


• Risalah berbahasa Arab, membantah fatwa Mufti Syafi’iyyah di Makkah.


KHR. Asnawi menulis risalah dalam bahasa Arab berisi bantahan atas fatwa keharaman membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang dilayangkan oleh Sayyid Abdullah Zawawi, mufti syafiiyyah di Makkah pada saat itu. Bermula dari istifta’ atau permintaan fatwa dari sebagian kiai/santri di Kudus yang dikirim kepada Sang Mufti di Makkah, bagaimana hukum membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani? yang di dalamnya terdapat kalimat:

أنا واحد في الأرض وأنت واحد في السماء

إذا سألتم الله فاسألوني

إن السعداء والأشقياء يعرضون علي ويوقفون لدي

قدمي على رقبة كل ولي

Maka, Sang Mufti menjawab, tidak boleh, dengan berbagai alasan yang tercantumkan dalam fatwanya. Setelah kabar fatwa tersebut sampai ke telinga kiai-kiai Kudus, maka Kiai Muhammad bin Utsman Kudus melaporkannya kepada KHR. Asnawi. Maksud dari laporan tersebut adalah mengharap agar KHR. Asnawi berkenan menulis bantahan atas fatwa itu. Awalnya KHR. Asnawi ragu dalam mengijabahi permintaan itu, tapi pada akhirnya beliau pun mengiyakan dan menulis risalah ini.

Selain pembahasan hukum manaqib, risalah ini juga menyinggung hukum Istighatsah dan menelaah kitab-kitab Ibnu Tamiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridla.

Orang yang membaca risalah ini akan begitu takjub dengan kealiman KHR. Asnawi. Bahasa yang digunakan sangat fashih, hingga para pembaca akan mengira bahwa yang menulisnya adalah orang Arab. Bantahan-bantahannya pun begitu kuat dan sangat mematahkan hujjah lawan. Diselingi dengan dalil aqli manthiqi dan dalil naqli.

Manuskrip risalah ini ditemukan di Masjid KH. Sholeh Lateng Banyuwangi oleh Komunitas Pegon yang diprakasai Mas Ayung Notonegoro. Manuskrip ini terdiri dari 6 halaman dengan tulisan tangan yang bukan salinan langsung KHR. Asnawi sendiri. Dalam manuskrip ini tidak ada keterangan siapa penyalinnya. Hingga sekarang masih berupa manuskrip yang belum pernah dicetak.


Bukti kuat risalah ini adalah karya KHR. Asnawi Kudus adalah keterangan pada akhir

كتبه بفمه وقلمه

الراجي غفران المساوي

محمد أسنوي القدسي الجاوي

Halaman pertama dari risalah KHR. Asnawi Kudus yang membantah fatwa Mufti Syafi’iyyah Makkah


Adapun kitab-kitab yang disangka banyak orang sebagai karya KHR. Asnawi tapi sebetulnya bukan karya beliau adalah:

• Kitab Fasholatan KHR. Asnawi Kudus

Kitab ini bukan karya KHR. Asnawi, melainkan karya cucu beliau yang bernama KH. Ahmad Minan Zuhri, yang bersumberkan dari amaliyah KHR. Asnawi. Setidaknya ada dua bukti bahwa kitab ini adalah karya KH. Ahmad Minan Zuhri. Pertama, pada cover kitab yang diterbitkan Percetakan Menara Kudus tertulis:

رتبه منن زهري أسنوي

Kedua, dalam kata pengantar terjemahan kitab fasholatan berbahasa Indonesia, tertanggal Kudus 3 Rajab 1375 / 14 Februari 1956, KH. Minan Zuhri berkata: “Kitab pesalatan K. H. Asnawi yang telah kami susun dengan Bahasa Daerah (Jawa) huruf Arab, sekarang kami salin ke dalam Bahasa Indonesia, dengan maksud untuk sekedar memberikan sumbangan kepada mereka yang mengalami kesulitan mempelajari kitab yang ditulis dengan Bahasa Daerah huruf Arab.

Perlu kami jelaskan bahwa adzkarushsholah dan aurod (wirid-wirid) yang kami tulis dalam kitab ini adalah yang dilakukan dan yang diwiridkan oleh beliau K.H. Asnawi.”

Dari keterangan KH. Minan Zuhri di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kitab fasholatan adalah susunan beliau yang diambilkan dari aurod dan a’mal KHR. Asnawi, bukan karangan KHR. Asnawi sendiri.

Cover depan kitab Fasholatan KHR. Asnawi susunan KH. Minan Zuhri


• Kitab Tauhid Jawan
Pada cover kitab ini cetakan Maktabah Karya Toha Putra Semarang:

كتاب توحيد جاوان

كاسوسون دينيغ

سبط العالم العلامة صاحب الفضيلة كياهي حاج أسنوي قدس


Banyak orang fokus pada nama KHR. Asnawi. Jika pembaca membacanya dengan cermat, akan tahu bahwa yang menulis kitab ini bukanlah KHR. Asnawi, melainnya cucu beliau yang Bahasa arab cucu adalah “sibth”. Yaitu KH. Ahmad Minan Zuhri, sebagaimana tercantum pada muqaddimah kitab.

Cover kitab Tauhid Jawan karya KH. Minan Zuhri terbitan Karya Toha Putra Semarang

• Kitab Jawan Ashal Sangking Lafadh Arab Masail Abil Laits As-Samarqandi

Sebagaimana kitab sebelumnya, kitab ini pula banyak disalah fahami penisbatannya kepada KHR. Asnawi Kudus. Pada cover kitab tercatat:

فونيكا كتاب جاوان أصل سغكيغ لفظ عرب مسائل أبي الليث السمرقندي

أوكي موندوت ماليه سغكيغ شرح غيفون فونيكا قطرالغيث

لبعض تلامذة الشيخ أسنوي بقدس

Banyak pembaca yang hanya fokus pada kalimat “Syaikh Asnawi Kudus” tanpa memperhatikan kalimat sebelumnya, yaitu Ba’dhi Talamidzati. Arti lengkapnya adalah: karya sebagian murid KH. Asnawi.

Lalu, siapakah murid KHR. Asnawi tersebut? Hingga sekarang tokoh tersebut masih samar.

penulis belum mendapatkan informasi lebih dalam lagi.

Beberapa pekan lalu penulis mendapatkan cetakan lawas kitab ini di rumah kuno peninggalan Alm. H. Ahmad Hanif, utara Masjid Menara Kudus. Naskah lawas ini terdiri dari 10 halaman dan diterbitkan pada Al-Mathba’ah Al-Aminiyyah milik Haji Muhammad Amin bin Haji Abdullah Singapura, pada tahun 1929 M/1348 M.

Cover depan kitab Puniko Kitab Jawan Ashal Sangking Lafadh Arab Masail Abil Laits As-Samarqandi karangan sebagian santri KHR. Asnawi Kudus. Dicetak oleh al Mathba’ah al-Aminiyyah Singapura tahun 1929 M/1348 H


Karya KHR. Asnawi Kudus Berupa Syairan

Selain pandai menulis kitab natsar, KHR. Asnawi juga piawai menggubah syair-syairan. Banyak syair yang telah digubah, baik dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Jawa. Di antaranya adalah:

  • Qashidah yang terkenal dengan julukan Shalawat Asnawiyyah. Pada salah satu bait qashidah ini menggambarkan betapa cintanya KHR. Asnawi Kudus kepada Indonesia. Yaitu bait:

أمان أمان أمان أمان * باندونيسيا رايا أمان

  • Qashidah dalam 22 bait berqafiyah lamiyyah dengan bahar Basith yang dikirimkan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Mathla’ qashidahnya adalah:

مسك السلام عليكم مع تحيتنا * يا أهل نهضتنا وعزة جللا


Setelah akhir bait KHR. Asnawi berkata:

من مرتجي الرضا والقبول من الخالق والمخلوق مع حصول المأمول : محمد أسنوي القدسي الجاوي

Isi qashidah ini adalah sebuah nasehat KHR. Asnawi kepada KH. Hasyim Asy’ari yang kebetulan berbeda pendapat dalam suatu masalah hukum. Hanya saja dalam qashidah ini tidak ada kejelasan, apa permasalahan tersebut.

Manuskrip qashidah ini ditemukan pada selipan kitab-kitab peninggalan KH. Hasyim Asy’ari yang tersimpan pada perpustakaan Pesantren Tebuireng Jombang.

Qashidah yang dikirimkan KHR. Asnawi Kudus kepada KH. Hasyim Asy’ari Manuskrip ini dengan tulisan tangan langsung KHR. Asnawi

• Qashidah 17 bait berqafiyah lamiyyah dengan bahar basith yang juga dikirimkan kepada KH. Hasyim Asy’ari Jombang. Mathla’ qashidahnya adalah:

أزكى السلام عليكمو مع التحيا * ت الوافرات المعطرات والحلل

Sama seperti qashidah sebelumnya, qashidah ini juga berisi nasehat KHR. Asnawi kepada KH. Hasyim Asy’ari yang kebetulan berbeda pendapat dalam penentuan hari raya Idul Fitri. Pada saat itu, hasil ijtihad KHR. Asnawi adalah hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu. Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa hari Jum’at sudah masuk 1 Syawal alias hari raya Idul Fitri.

Manuskrip qashidah ini ditulis satu naskah dengan manuskrip qashidah sebelumnya. Ditemukan di antara lempitan kitab peninggalan KH. Hasyim Asy’ari yang disimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng.

Qashidah yang dikirimkan KHR. Asnawi Kudus kepada KH. Hasyim Asy’ari Manuskrip ini dengan tulisan tangan langsung KHR. Asnawi

• Syairan berbahasa Jawa berjumlah 10 bait yang ditulis sebagai khuthbatul kitab atau kata  testimoni pada kitab Fasholatan KHR. Asnawi Kudus susunan KH. Minan Zuhri Asnawi.

  • Syairan berbahasa Jawa berjumlah 5 bait yang ditulis sebagai kata testimoni untuk Kitab Fasholatan Kendal karya KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal.


Demikian ulasan singkat yang penulis suguhkan kepada khalayak pembaca. Semoga dapat menambah pencerahan, informasi dan dokumentasi yang mendukung keberadaan KHR Asnawi sebagai seorang penulis yang produktif dengan berbagai karyawanya. 

Bagikan Postingan Ini

Related Posts

Menyemai Kultur Jaringan Alumni menuju Qudsiyyah
Berkembang dan Bercabang di Segala Bidang

© 2026 IKAQ