Tadi malam Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus angkatan tahun 2014 mengadakan reuni dan halal bihalal. Kebetulan saya yang diminta teman-teman untuk pegang mic. Pada sesi tanya jawab ada teman yang bertanya, bagaimanakah sikap saya soal polemik nasab Ba’alawi. Apakah nyambung kepada Rasulullah atau tidak?
Sebelum saya tuliskan jawaban saya, saya ingin terlebih dahulu jelaskan sedikit profil Madrasah Qudsiyyah.
Madrasah Qudsiyyah adalah salah satu madrasah paling sepuh di Kudus yang masih eksis hingga sekarang. Didirikan pada tahun 1919 M oleh KHR. Asnawi Kudus, ulama kenamaan asal Bendan Kudus yang juga pendiri Nahdlatul Ulama.
Madrasah dengan ribuan santri ini sangat berjasa dalam mencetak para ulama di Kudus dan sekitarnya. Jika kita keliling di desa-desa daerah Kudus dan sekitarnya, insya Allah ada kiai di desa itu yang alumni Qudsiyyah.
Guru-guru pengajarnya dari dulu hingga sekarang banyak dari kalangan kiai-kiai sepuh Kudus. Seperti Alm KH. Sya’rani Ahmadi, Alm KH. M. Ma’ruf Irsyad, Alm KH. Yahya Arif, KH. Noor Halim Ma’ruf, dan KH. Saifuddin Luthfi.
Kembali ke jawaban seputar syubhat yang meragukan nasab Ba’alawi. Saya jawab seperti berikut:
Saya pernah dapat cerita Kiai Aslim Akmal Krandon Kudus, dahulu KH. Yasin Jalil pernah sakit parah. Diberobatkan ke mana-mana tak kunjung sembuh. Terakhir diobati Habib Alwi bin Muhammad bin Syaikh Bafaqih Kauman yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Alhamdulillah sembuh. Sebagai rasa terima kasih, KH. Yasin Jalil ingin ‘ngrumati’ atau membiayai salah salah satu dari anak/cucu Habib Alwi Bafaqih. Akhirnya salah satu cucu beliau dibiayai pendidikannya hingga dewasa oleh KH. Yasin Jalil.
Sebuah data dari Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO), nomor 2 tahun 1347 H, halaman 16 merekam sejarah pendirian Nahdlatul Ulama cabang Kudus yang ternyata juga dihadiri para habib/sayyid.
Singkat cerita, pada Malam Senin 10 Rabi’ul Awwal 1347 H yang pertepatan dengan 26 Agustus 1928 M, KHR. Asnawi Kudus membuat forum pendirian NU cabang Kudus. Forum ini diselenggarakan di Ndalem KHR. Asnawi Kudus dan dihadiri oleh KH. Abdul Wahhab Hasbullah dan Kiai Abdullah Ubaid dari Pengurus NU Pusat. Turut hadir pula para kiai, pengulu, hujjaj, dan sayyid di daerah Kudus.
Forum tersebut mensepakati berdirinya NU cabang Kudus dengan rincian pengurus antara lain sebagai berikut:
Sedangkan mustasyar atau penasehat, -yang lumrahnya diisi oleh orang-orang yang disepuhkan, baik dari segi usia, keilmuan, maupun kedudukan-, diamanahkan kepada empat ulama. Yaitu KHR. Asnawi Bendan, Kiai Muslim Langgardalem, Kiai Shofwan Durri Tepasan, dan yang terakhir adalah Sayyid Alwi Bafaqih Kauman (dalam dokumen tertulis Sayyid Ali), sepupu KHR. Asnawi dan salah satu kawan beliau semasa ngaji di Makkah dan setelah kembali ke Kudus.
Silahkan fokus pada keterangan forum pendirian NU cabang Kudus dihadiri para Sayyid dan salah satu dari mereka, yaitu Sayyid Alwi Bafaqih, terpilih menjadi mustasyar yang dianggap sepuh. Forum itu diselenggarakan di Ndalem KHR. Asnawi. Andai beliau tak takdhim kepada para Sadah Ba’alawi, pasti tak akan ada kejadian seperti itu.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai alumni Qudsiyyah yang didirikan oleh KHR. Asnawi mengikuti jejak beliau dalam mentakdhimi para sadah habaib. Jika tidak bisa mentakdhimi, minimal tidak menjelek-jelekkan mereka.
Hadza, Wallahu A’lam.